Merdekakah Diri Kita ??? (1)

blogger templates
"Allah -Subhanahu wa ta’ala- memerintahkan kami untuk membebaskan manusia dari memperhambakan diri kepada selain Allah dan melepaskan belenggu duniawi menuju dunia bebas, dan dari agama yang sesat menuju keadilan Islam," tegas Ruba’i lantang menjawab pertanyaan Panglima Rustum, pemimpin pasukan Persia dalam perang al-Qadhisiyah, tentang mengapa pasukan Islam masuk ke tanah Persia.

Dialog di atas terjadi menjelang perang al-Qadhisiyah. Adalah Ruba’i bin Amir, yang memang dikirim oleh panglima tentara Islam ketika itu, Saad bin Abi Waqqash, untuk menghadap panglima tentara Persia, Rustum. Saat itu Ruba’i bin Amir masuk tanpa menghiraukan keadaan mewah sekelilingnya. Ruba’i terus masuk dan membiarkan kaki kudanya mengotori hamparan permadani mewah itu. Segera ia menghadap panglima, dengan tetap menyandang senjata dan perisainya.

Melihat itu, para pembesar Persia segera berseru, "Letakkan senjata itu!" Dengan tenang, Ruba’i menjawab, "Aku kemari hanyalah atas undangan kalian. Jika kalian senang biarkan aku dalam keadaanku seperti ini, atau kalau tidak aku akan pulang". Panglima Rustum menengahi,"Biarkan ia menghadap"

Akhirnya, Ruba’i menghadap panglima, dan terjadilah dialog seperti tersebut di atas.

Misi Islam

Pernyataan Ruba’i itu menegaskan bahwa dorongan "ekspansi" Islam bukan bersifat material, sebagaimana yang dilakukan kaum imperialis-kolonialis dari Barat-Nashrani beberapa abad silam ketika mereka merangsek ke wilayah-wilayah jajahan di Timur Tengah, Asia Selatan atau Asia Tenggara. Barat berusaha keras menemukan daerah baru untuk dijajah dan dieksploitasi hasil buminya tanpa sisa. Inilah semangat ekspansi demi "Gold, Glory and Gospel" (emas, kekuasaan dan agama). Hal itu terbukti, dengan tidak satu pun daerah bekas jajahan mereka -–termasuk Indonesia-– sepeninggal penjajah yang berubah menjadi maju, makmur dan sejahtera. Sebaliknya, yang bersisa adalah derita, duka, dan nestapa.

Berbeda dengan semua itu, Ruba’i justru memberikan perspektif baru tentang dorongan ‘ekspansi Islam’, yaitu Tauhid. Semangat dakwah yang berintikan seruan tauhid itulah satu-satunya dorongan ketika Islam berusaha meluaskan daerah kekuasaannya, yaitu semangat membebaskan manusia dari perbudakan kepada penghambaan kepada Allah semata.

Tauhid adalah iman akan wujud (keberadaan) Allah berikut asma’ (nama-nama) dan sifat-sifatnya. Tauhid yang benar bukan hanya sekedar percaya kepada wujud Allah, melainkan juga disertai ketundukan pada otoritas (kedaulatan) Allah dalam pengaturan kehidupan manusia di dunia, karena memang untuk demikianlah manusia diciptakan (QS. al-Dzariaat [51] ayat 56).

Tauhid itulah landasan penyebaran Islam. Benar, misi Islam sejak awal adalah menyeru manusia di seluruh dunia kepada Tauhid, dengan jalan dakwah dan jihad. Melalui dakwah berarti terdapat gerakan terus menerus untuk merubah manusia dari pikiran, perasaan dan tingkah lakunya yang sesat dan kufur menjadi pikiran, perasaan dan perilaku yang diatur oleh syari’at Islam, serta mewujudkan pola hubungan antar manusia berdasarkan hukum Allah -Subhanahu wa ta’ala- .

Sejarah menunjukkan hal ini. Setelah berjuang selama 13 tahun di Makkah, Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- berhasil mewujudkan masyarakat Islam yang dicita-citakan di Madinah. Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- memimpin dan mengatur masyarakat Madinah dengan syariat Allah -Subhanahu wa ta’ala- , dan menyebarkan Islam ke seluruh wilayah di sekitarnya. Makkah yang semula sangat memusuhinya, tak lama kemudian dapat ditaklukkan dan berbalik menjadi pembelanya, kemudian Syam dan Mesir. Dalam berdakwah, Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- menyeru kepada para pemimpin wilayah-wilayah yang menjadi objek dakwah untuk masuk Islam. Misalnya, beliau menyeru kepada Heraclius, "Aslim taslam – berIslamlah agar kau selamat". Bila ditolak, Rasulullah -sholallahu 'alaihi wasallam- tidak memaksa, tapi mereka diminta tunduk kepada pemerintah Islam dan membayar jizyah dengan tetap memeluk agama mereka masing-masing. Allah berfirman:

"Perangilah oleh kalian orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari Akhir, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar, yaitu orang-orang yang diberi al-Kitab (Taurat dan Injil) kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah sedang mereka dalam keadaan tunduk (kepada hukum-hukum Islam) (QS. At-Taubah 29).

Bila terhadap tawaran ini pun mereka tetap juga menolak bahkan melawan, mereka diperangi. Sebab, saat itu berarti mereka tengah menghalang-halangi manusia menerima cahaya kebenaran Islam, serta menentang Allah -Subhanahu wa ta’ala- dan Rasul-Nya. Inilah yang dapat dimengerti dari hadits beliau yang disampaikan oleh Ibnu Abbas dan Farwah Ibnu Musaik, "Janganlah kalian memerangi suatu kaum sebelum kalian mengajaknya kepada Islam".

Jelas sekali, semangat penyebaran Islam berbeda sama sekali dengan yang dilakukan oleh Barat. Kolonialisme Barat selamanya menyebarkan kejahiliyahan dan kerusakan. Semuanya itu menyebabkan manusia hidup di dalam kegelapan tanpa petunjuk dari Penciptanya. Sebab itu, Al-Qur’an menyebutnya dzulumat (kegelapan).

Di bidang aqidah, Barat menyebarkan filsafat materialisme; di bidang ekonomi menyebarkan tatanan ekonomi kapitalisme yang eksploitatif; di bidang budaya menyebarkan amoralisme; di bidang pemikiran menyebarkan sekularisme, di bidang militer dan politik menyebarkan peperangan, adu domba dan pertentangan demi kepentingan sesaat serta melegalkan kedustaan.


0 Response to "Merdekakah Diri Kita ??? (1)"

Post a Comment